Jumat, 16 Agustus 2013

STORY IN PILITAN RESIDENCE


# Episode 2

Deskripsi wanita titisan Dewi Padi yang sempat terhenti pada episode 1 harus segera kuselesaikan, permintaan dari beberapa hati yang syahdu. Seperti layaknya tumpukan batang kawat yang berpadu menjadi kerangka payung yang menjadi tumpuan bagi beberapa inci kain, mampu menjadikan keteduhan dari geramnya sang matahari mencoba membakar kulitmu, demikianlah jalinan di antara kami akibat adanya tiang kawat yang menjadi poros kami-sang kawat dapat bersatu. Tentu saja tiang kawat yang kubicarakan adalah sang Dewi Padi. 

Perjalanan musa pastilah tidak akan berhasil jika kakaknya harun tidak senantiasa mendampingi. Rumah yang posisinya di tengah itu, merupakan oase bagi kami yang udik. Di sana, bukan sekedar mendapatkan petuah, nasehat, tapi juga tempat bermain dan membuat janji-janji. Jendelanya yang nan indah, teralinya yang berupa-rupa, serta gordennya yang memesona, menjadi lokasi favorit kami hampir setiap setengah lima setiap harinya. Tak lain karena di sana sudah berdiri sang bocah yang sebenarnya memiliki daya tarik setingkat gegana. Kemampuannya untuk menarik kami memperhatikan dia seakan magnet dua kutub, dimana medan magnet yang terjadi telah menimbulkan gaya gerak listrik berkekuatan 1000 volt.  Justru anak inilah sebenarnya yang menjadi bintang dari seluruh rangkaian kehidupan yang bercorak di residence ini. Tingkah polahnya yang terlalu menghibur, malah jenius menurutku sering menjadi kegemaran yang kami rindukan. Ia mampu menyatukan minat dan kebiasaan kami, tentu saja dengan seluruh jiwa yang pernah menjalani masa hidup di area itu. Benar-benar luar biasa.

Tentu saja Kumpulan rumah penuh senyum ini bukanlah hanya Dewi Padi dan si bocah gegana, melainkan juga seorang ayah penuh kasih yang mampu memberikan gambaran seorang pria komplikasi. Kamu bisa melihat sosok kakak lelaki, ayah, dan juga teman yang baik. Sang ayah mampu menjalankan perannya dengan kompilasi.   Dan kamipun sang manusia udik mendapat anugerah dari keluarga penghuni rumah penuh senyum ini. 

Suara gelak yang rusuh menggema ke ruangan sebelah yang sebagian dindingnya terbuat dari bahan triplek, tak pelak membuat para jamaah putri yang selalu memancarkan semerbak harum setanggi melongokkan kepala mencari tahu penyebab keributan yang terjadi. Sekedar menilik, beberapa diantara mereka justru turut menjadi pelaku keributan selanjutnya yang malah setingkat diatas yang pertama. Sepotong senyum di sertai lirikan penuh bahasa dari wanita sopan-dewasa,  akan kami jumpai jika kebisingan yang tercipta akan naik tingkat . Ketenangan dan kelembutan sifatnya yang dalam, mungkin merupakan warisan nenek moyang yang tidak di buat-buat. Aku biasa menyebutnya “sang dosen” yang di dukung oleh profesinya yang memang seorang dosen saat itu. Seumpama ulah kami tidak berhenti sampai di situ, barulah beberapa hati yang terusik akan segera menghampiri, menegur, atau bahkan jika kami sedang sial, akan langsung mandamprat dengan beberapa frasa yang asin. Sampai saat ini, aku sering terkenang-kenang dalam peraduan seberapa dalam perseteruan yang terjadi antara kami dengan tetangga si frasa asing ini. Mulai dari kain lap yang pantang tersangkut di pagarnya, daun kering dari pohon mangganya yang selalu nongkrong di halaman  rumah kami tapi tidak kebagian buahnya, sampai keisengan kami mengganggu kelangsungan hidup sang buah. Hmm, sungguh menggelikan. Efek yang timbul adalah nuansa yang janggal untuk saling melempar senyum.

                Puluhan tikus kecil pernah menjadi thema pembicaraan yang populer di antara sesame kami. Aku hampir tidak dapat menghitung seberapa sering kami akan berdiskusi dengan hangat, hanya dengan membahas ulah hewan kecil yang kala itu sangat terkenal dengan nama “cirurut”. Makhluk kecil ini memang cukup fantastik, mampu membuat kami berteriak-teriak, melompat-lompat, bahkan tak jarang kami berkejar-kejaran tak tentu arah. Bentuknya mungil, moncongnya runcing, dan yang paling menjijikkan bagiku, perutnya yang cukup buncit karena buas menjarah apa saja yang ada dalam rumah. Cicitnya sombong tak peduli. Hewan berparas mengerikan serupa gergaji terkutuk itu mendekor lemariku dan baju-bajuku dengan lobang berenda yang sama sekali menyebalkan, hanyut di pojokan di latari deburan trofosfer. Aku sampai membenci si pengerat itu hingga urat nadiku.

                Rasa phobia kami terhadap musuh mini ini di ejek mentah-mentah oleh seorang pendekar wanita berambut cepak.  Aku menganggapnya sri kandi masa kini. Tidak tahu mengapa, tapi sepanjang ingatanku perempuan berperawakan kecil ini selalu memiliki model rambut yang hampir selalu sama. Menjadi pribadi yang disiplin adalah prinsip hidup wanita ini, menurutku. Proporsi badannya sungguh kurang sebanding dengan kelincahannya yang hampir tidak pernah diam. Aku menarik kesimpulan, ternyata tabiat orang tidak berhubungan dengan nama, gelar yang disematkan padanya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, apalagi bentuk dan ukuran tubuhnya.

Warisan yang sebenarnya sungguh tidak kami senangi selama berhabitat di residence ini adalah satu dan satu-satunya, tak lain tak bukan adalah mogoknya aliran got sehingga membuat toilet rumah kami bermasalah.

Bersambung ke episode #3…

STORY IN PILITAN RESIDENCE



                #Episode 1          

Aku memasuki gedung putih berpagar hijau itu dengan perasaan seperti menghirup bau “tengik ngeyel” sejarah kehidupan yang sudah mulai lapuk. Rasanya ingin menangis, tertawa, marah, sedih, dan segala macam perasan merasuki hatiku secara bersamaan dan komplikasi, mungkin aku bisa menyebutnya galau. Masih jelas terbayang wajah mereka, orang-orang sederhana dan biasa, yang aku percaya merupakan kumpulan manusia-manusia non modis, namun mampu meramaikan hatiku dengan hikayat bahagia yang berkobar-kobar. Hikayat tentang segelintir wanita modern yang polos, yang bila dibandingkan dengan mereka yang selalu up to date bersolek, kami merupakan kumpulan perempuan jaman purba-kala yang tak lekang oleh waktu, tidak tergilas jaman. 

                Hatiku runtuh, saat aku menengadahkan kepala tepat di dinding luar rumah, tertempel dengan setia-masih seperti dulu, nomor yang menandai alamat rumah itu, 18 C. Tenggorokanku rasanya tersayat, ada suara diam yang berteriak-teriak dalam mulutku, tangis yang terisak-isak, walau tampakku hanya membisu. Akh, kenangan itu masih tertempel dengan terlalu kuat, terlalu keras. Mungkin inilah yang disebut para pujangga sebagai “Rindu yang menusuk kalbu” yang mampu meledakkan hati dan perasaanmu, menorehkan luka paling dalam tepat di jantung, menyayat-nyayat, dan mampu membuatmu menangis sesenggukan seperti kesedihan yang di tanggung janda muda di tinggal mati. Perasaan yang sangat tajam. Sakit. Aku bisa merasakan hatiku meleleh, bergetar, mengeras, dan berubah-ubah tidak karuan. Rindu. Pastilah kata itu yang disebut oleh mereka sang manusia romantic yang sedang merasukiku. Menurutku, Rindu itu di konversikan menjadi suatu energy yang tidak terurai oleh jasad-jasad renik di lautan, karena hormon melalui gelombang supersonik dalam hitungan milisekon, maka derajat kemiringannya menjadi tepat dengan gaya sentrifugal. Seperti saat ini, kata ampuh ini mampu membuatku berdiri mematung cukup lama di halaman yang dulu sering berperan sebagai “studio foto”. Masih sangat jelas dalam ingatanku, bagaimana dulu kami berpose yang benar-benar tidak pantas di sebut sebagai modis, absurd.

                Apakah suatu kebetulan kami yang terkumpul sebagai penghuni rumah itu adalah orang-orang “mati gaya” ataukah memang kami yang saling menularkan ketidakmodisan itu merupakan rumusan yang akan menghasilkan hasil akhir yang sama menurutku. Jika hidup ini seumpama perjalanan jerapah berleher pendek mengalami seleksi alam hingga menjadikan lahirnya jerapah masa kini pada teori Darwin, maka pengalaman demi pengalaman merupakan duri-duri dan cabang yang semakin tinggi yang menggempur kita di ekosistem itu. Maka pada hakikatnya menurut sang manusia cerdas itu, seharusnyalah kami akan berubah menjadi wajah-wajah postmo. Disinilah kami serta-merta mematahkan teori itu.

                Komplikasi yang sempurna namun pada akhirnya menghasilkan paduan yang senada. Seperti campuran warna komplementer dari gelombang-gelombang cahaya pendek dari berbagai warna seperti merah, jinggga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu pada akhirnya hanya menghasilkan warna putih atau yang kita kenal dengan istilah cahaya tampak. Analogi ini tak lain karena keberagaman yang kami miliki telah mampu menghasilkan kesamaan sifat yang hampir mutlak. Walaupun sudah berganti generasi dari tahun ke tahun, namun kami mampu mewariskan kesaamaan itu. Sungguh sangat terharu.

                Samar aku teringat dengan tingkah seorang wanita mungil yang memiliki kulit agak gelap, dan ku tahu selalu dibanggakannya, bergerak ke sana-kemari, mengerjakan berbagai hal dan hampir bisa dipastikan bahwa dia akan melakukan itu sambil bernyanyi. Suaranya memang merdu, hingga kami pernah menyarankan dia untuk mengikuti kontes nyanyi yang terkenal saat itu. Tapi sepertinya dia memiliki tujuan lain dengan suaranya. Wanita ini termasuk rumusan hukum pascal. Semakin badannya kecil, tapi suaranya malah semakin kencang. Termasuk wanita ajaib. Kecanggihan wanita mungil ini masih dapat di tandingi oleh seorang pecandu kopi maniak. Satu hal yang akan sangat menyenangkan baginya ketika sebungkus kopi hitam asli di sodorkan padanya akan langsung membuat matanya berbinar-binar. Sungguh mudah membuat wanita berwajah bulat ini bahagia.

                Berbeda dengan kedua wanita tadi, seorang diantara penghuni rumah ini sangat aneh. Tidak ribut, tidak bernyanyi dan juga tidak suka kopi. Aku ragu, badannya yang cukup kurus itu merupakan hasil dari kebiasaannya makan sereal sebagai pengganti nasi. Hmm, satu hal yang kurasa merupakan cirri khas dari perempuan berkulit mitam manis ini adalah kecintaannya jadi sate padang. Aku sampai pernah berdoa semoga masa depannya bisa berada di sumatera barat sana untuk menikmati makanan itu langsung pada sarangnya. Hahahaha… sampai sekarang belum terkabul juga doaku.

                Wanita paling modern, mungkin itulah gambaran dari perempuan berbadan seksi ini. Diantara kami memang perempuan inilah yang paling bisa di andalkan dalam penampilan. Cantik, dan menurutku itu memang sebanding dengan kebaikan hatinya. Hal yang paling sangat ingin kulakukan bersama wanita ini adalah berbelanja. Sungguh, dia merupakan teman belanja yang baik. Selain aku akan dapat barang bagus, dia merupakan penawar ulung. Aku sampai pernah terkagum-kagum dengan keahliannya. Perempuan ini juga memiliki semangat yang tinggi, dan itu merupakan inspirasi yang kuat bagiku, walau mungkin dia tidak pernah tahu, akulah yang sang celhoe yang mengambil langkah kedua. 

                Berbeda dengan wanita modern, perempuan jangkung-kurus ini justru orang yang paling kuhindari dalam urusan berbelanja. Mungkin karena aku yang tidak di anugerahi semangat belanja tinggi, wanita ini justru memiliki energy yang melimpah ruah untuk itu. Merupakan wanita simple. Tapi menurut dugaanku, dia akan menjadi wanita sukses. Aku bisa melihatnya dari bagaimana dia begitu ketat dan efisien dalam hidup. Termasuk wanita yang sangat mengagumkan. 

                Paling suka merutuk kalau ada yang tidak disukainya, merupakan cirri khas perempuan berkaca mata tebal ini. Aku paling suka mengajaknya tertawa. Aku pernah sampai tergila-gila mendengarkan bunyi tawanya. Bagiku wanita ini memiliki tawa yang menyembuhkan. Merdu.

                Perempuan ini memiliki sifat yang mirip denganku. Suka berbuat jahil. Kami akan sangat menikmati ketika ada sesuatu yang dapat kami ganggu. Tidak ketinggalan, tetangga yang memiliki pohon mangga di sebelah rumah merupakan sasaran empuk ulah kami. Kadang-kadang melempar, sampai pernah juga memukul-mukul buah mangga muda dengan sapu hanya karena kesal tidak dibagi sama yang punya. Hahahaha. Merupakan kenangan yang memalukan. Aku ragu, apakah rekan jahilku ini akan melakukan tradisi memukul mangga ini di papua sana. Mudah-mudahan tidak. Itu doaku, walau hanya setengah-setengah. Hahahaha.

                Suara merdu nan ramah, senyum manis mempesona dan tentu saja tatapan yang selalu ingin tahu selalu menyambut di pintu rumah yang dihiasi nomor 18 B itu. Mungkin wanita ini merupakan titisan dewi padi. 


Sebuah Awal



Sebuah Awal

Siapa yang mengira bahwa bintang-bintang yang tersebar di angkasa tersusun dalam struktur yang rapi, siapa yang menyangka bahwa pergerakan  benda-benda langit tidaklah berantakan tanpa aturan, siapa menyangka bahwa awan tak akan muncul begitu saja di depan muka bumi, dan tentu saja bukanlah kebetulan bahwa bumi berbentuk bulat. Aku bukan hendak menceritakan tentang hebatnya sang pencipta yang bernama Tuhan, karena itu tidak akan pernah berakhir pembahasannya. Aku cuma hendak mengerti tentang garis merah antara hidup satu manusia dengan manusia-manusia lain, hidupku yang terlalu sederhana bagikupun ternyata terhubung dan berseliweran dengan hidup  banyak orang, bertautan kemudian terpisah tanpa ampun, menjadikan hidup ini adalah monster tanpa perasaan yang memaksa manusia untuk menjalani proses pertemuan dan kehilangan, tanpa ampun menghajar perasaan, memaksa otak untuk membuat pembenaran. “Ada jutaan bintang di atas sana, kau bisa memilih yang  mana saja karena ia cantik, besar atau bersinar paling terang, namun yang kau tak pernah bisa adalah memilih bintang mana yang akan datang padamu.”

          Apakah suatu kebetulan jika akhirnya aku menjadi seorang pendidik, bertemu dengan komplikasi manusia dengan segala macam perilaku, padahal aku seorang demonstran di awalnya, apakah kebetulan juga seorang militan pro-rakyat di masa kuliah, berubah menjadi pengeram sejati di masa produktifnya? Apakah kebetulan juga ketika masa dewasaku diisi dengan pertemuan-pertemuan di masa mahasiswaku? Telah kujalani rentangan masa yang panjang untuk melihat kebanyakan forma-forma tubuh yang lemah ini, telah kupancangkan juga cita-cita setinggi langit sesuai kata mutiara sang manusia hebat namun kenapa justru hidupku berujung pada sebuah harapan sederhana, terlalu sederhana bagi orang-orang yang berpikir besar. Rumusan Lahir-Muda-Sekolah-Nikah-Tua-Mati malah makin nyata menjadi cetak biru hidupku, lempang-lempang saja pada akhirnya meski seberapa besarnya aku pernah memberontak terhadap rumus itu, berjuang mati-matian untuk membuktikan rumusan itu salah, bahwa itu bukan jalan bahagia. Tapi di ujung malam, di sinilah aku, tepat menjalani seperti rumus itu. Sampai akhirnya lamunan kala fajar itu dipecahkan oleh sebuah suara.

          “Kamu ngga tidur sayang, masih suka bicara pada langit dan tinggalkan aku sendiri di luar sana?” itu bunyi pesan pada telepon genggamku yang telah mengembalikan aku dari lamunan panjang. Pacarku yang setia, akhh… aku lebih senang menyebutnya kekasih. Orang yang dengan senang hati membagi hatinya untukku, walau kadang aku bingung mengapa ia melakukannya. Aku terpukau mendapati diri sebagai kekasihnya. Dewi fortuna pasti sedang kelilipan sewaktu membagikan jatah mujur hidup bagian ini. Aku menganggapnya sebagai konstelasi bintang penunjuk arah yang mulai kupahami, kini semua enigma tentang hidup terang bagiku.

          “Terimakasih untuk waktu-waktu yang indah, rasa sakit yang saling kita derakan namun tak pernah kau meninggalkanku untuk menanggungnya sendiri.” Segera ku kirimkan pesan balasan pada dia.

          Coelho tak asal cuap ketika menciptakan Sang Alkemis, harta karun terbesar ada di depan pintumu namun perlu ribuan kilometer untuk mencarinya karena hidup tak semudah celotehan Mario Teguh atau pidato penjual obat maupun kartu perdana. Ribuan luka mesti dirasakan, ratusan dera mesti diterima, kesedihan dan perpisahan adalah titik menuju pertemuan, Tuhan tak selalu memberi jalan mudah,  namun kekuatan untuk bertahan hiduplah yang diberikanNya, membuatku bisa berada di titik ini, pada akhirnya aku menemukan ruang di mana aku tak membutuhkan apa-apa lagi, tak ada lagi yang harus kusakiti, dan hidupku tak perlu digantungkan pada cita-cita apapun. Disinilah ujung pencarianku. Aku telah lelah mencari, saatnya untuk berhenti pada satu titik dan memulai penggalianku. Inilah sebuah awal dari hidupku yang baru, hidup yang baru saja kumulai.

Aku mulai percaya bahwa rumusan hidup itu benar adanya, apakah aku jadi bodoh kemudian. Aku terus terang tak tahu, dan lebih tepatnya aku tak peduli. Aku telah menemukan alasan kenapa aku hidup, kenapa aku harus berjuang, kenapa aku harus berjalan sendirian, kenapa aku harus cemburu, kenapa harus mengalah, kenapa harus membenci sesuatu. Aku telah memiliki alasan!

Saat ini aku bersama makhluk-mahkluk seperjuanganku sedang memasuki kantong-kantong hibernasi. Libur panjang, sekaligus tidak jelas, dan aku pasrah. Sejak hari pertama hibernasi, segelintir temanku sudah meringkuk di bawah saung habitatnya. Ketika akan berpisah, kami sempat bercerita cukup lama. Hangat. Walau kutahu, itu hanya akan menambah gundukan cemburu, rindu ayah-bundaku.

Di antara peniti-tataan tidur panjangku, sekali-sekali aku memperhatikan kesibukan di sudut lorong kamarku. Ada sesuatu yang janggal di sana. Sulit kutahan tawa, sebab di sana, ada banyak kecoa yang berkelahi. Aku segera menghitung-hitung, ada berapa diantaranya yang akan menjadi janda. 

Aku tidak tahu, apakah aku yang terlalu sekaratul rindu. Pastilah karena kerinduan akut akan kampung halaman, atau karena penganiayaan batin tanpa belas kasihan. Tapi yang pasti, aku sudah bisa menguatkan diri. Sendiri, di kamar asrama yang kurasa mendadak terlalu besar setelah kepergian teman-temanku.

Sekali-sekali aku berkeliling sekitar lorong asrama, mencari makhluk-makhluk yang mungkin masih taat sepertiku, sekedar menyapa, melempar senyum, atau aku mencoba-coba mengajak tertawa. Bagiku sama saja. 

Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam-putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini. Pengembaraan ternyata memiliki paru-parunya sendiri, yang dipompa oleh kemampuan menghitung setiap resiko berpikir tiga langkah ke depan sebelum langkah pertama di ambil, integritas yang tidak dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun, toleransi, dan daya tahan. Semua itu lebih dari cukup untuk mengubah mentalitas manusia paling bebal sekalipun. Para sufi dan mahasiswa filsafat barangkali melihatnya sebagai hikmah komunikasi transedental dengan Sang Maha Pencipta melalui pencarian diri sendiri dengan menerobos sekat-sekat agama dan budaya. Aku menyebutnya sebagai akibat: Cinta Negeri.

Malam ini kulalui dengan dingin, sunyi, tenang, quite, hening, sesekali aku menciptakan kebisingan sendiri dengan memutar em pi tri dari telepon genggamku, keras-keras. Sesekali juga lagu yang mengalun ku iringi dengan suaraku yang kuakui sendiri cukup merdu, setidaknya tidak lebih bising daripada kaleng rombeng yang dipukul-pukul penjual nasi goreng tengah malam di kampungku, setiap lewat pukul sepuluh malam. Hari sudah pagi, tapi aku masih betah berlama-lama meringkuk di ranjangku. Kutarik selimutku kuat-kuat, berusaha melawan kawanan nyamuk yang mengeroyokiku. Sekali-dua kali kutepukkan tanganku, dan berakhirlah hidup beberapa ekor nyamuk yang malang.

Aku masih sibuk berguling-guling kepanasan di kamarku. Sekilas terbayang wajah teman-temanku yang sudah lebih dulu memberanikan diri menuju habitatnya. Mungkin mereka sudah berbasah-basah air mata mencium tangan ayah-ibunya, melepas rindu yang meloncat-loncat. Aku bak pesakitan yang sudah lama tak mendapat kunjungan, menahan rasa rindu kronis sekaligus akut yang meledak –ledak. Aku juga ingin bertemu dua orang yang ingin kuciumi telapak kakinya itu. Orang yang setiap kata-katanya akan kujunjung tinggi di atas pualam. Selalu.

Hhooooooaaaahhhhhhh… Aku menguap lebar, mengantuk. Segera kutarik lagi selimutku kuat-kuat, dan kali ini aku benar-benar ingin tidur, bermimpi. Dan tentu saja membawa harapan yang menyentak-nyentak, esok hari akan ada pengumuman resmi hari libur, kalimat yang sangat kuidam-idamkan. Yang sangat kunantikan, seperti penantian pengantin wanita di ujung lorong menunggu sambutan tangan sang mempelai pria. Aku mulai terlelap, dan akhirnya aku bermimpi. Indah.

Di dalam ruang anganku, mengalir senandung syahdu, …libur tlah tiba… libur tlah tiba… hore! Hore!
 
Aku pun melayang dalam lautan awan. 

___Home alone___
Note : Berusaha taat, walau berat!
           Teman-teman yang sudah pulang duluan, jangan lupa bawa oleh-oleh.






           

BABAK I




Dari gagang telepon, sahabat karibku menjawab dengan suara yang mengantuk. “Menolongmu? Maaf, aku masih ngantuk.. Hmm, oh ya… Jam dua belas… eh, terlalu lama ya… kalau begitu, teleponlah lagi sekitar jam 1… “ Begitu aku menyetujuinya, dia menambahkan dengan kata-kata yang tegas. “Telepon hanya bisa tiga kali! Jangan lupa! Untung kalau bisa dalam sekali, tapi jika sampai tiga kali, bersiaplah! Sebab aku masih bermimpi… tapi khusus untuk permintaanmu saja. Walaupun aku berhati dingin, tapi aku tidak ingin mengatakan tidak. Jelas? Jangan salah. “Jam 1!”

CINTA KAPITALIS….



CINTA KAPITALIS….

            “AKU ini untuk urusan cintapun kapitalis ya?” kata seorang temanku suatu kali. Kali ini wajahnya serius.
            “Kapitalis? Maksudmu bagaimana?” tanyaku balik bertanya. Akhir-akhir ini kalau aku mengobrol dengannya memang suka nggak mudeng. Entah aku yang telmi atau memang bahasanya yang aneh-aneh dan nggak jelas, aku nggak tahu. ( tetapi sepertinya kesimpulan terakhir yang benar. He he he …! )

            “ Ya, Kapitalis. Maksudnya, tanpa sadar, aku mengharapkan balasan,” jawabnya singkat.

            Yup! Disadari atau tidak, sepertinya ada dorongan otomatis yang mengharapkan balasan balasan “yang setimpal” sewaktu kita mencintai orang lain. Penginnya harus sama-sama. Atau kalau bisa mendapat lebih. Lebih banyak cinta, gitu-lah! Jadi, ibarat orang bertepuk tangan, bisa berbunyi. PLOK! PLOK!PLOK! bukannya malah menampar angin atau Cuma berbunyi sekali dan pelan, “pluk!”atau, ibarat  orang yang mau bersalaman, kita berharap orang yang diajak bersalaman mau menerima uluran tangan kita. (kebayang kan betapa nggak enak hati ketika kita sudah mengulurkan tangan, tetapi ternyata orang itu sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda menanggapi? ) dan betapa susahnya tersenyum tulus ketika uluran tangan kita nggak ditanggapi.

            Tetapi toh keinginan itu nggak selamanya bisa terpenuhi. Hati orang kan nggak bisa ditebak. Dan kita nggak bisa memaksa orang lain untuk menerima cinta kita. Cinta itu nggak bisa dipaksakan. Dan, jika dipaksa, itu bukan cinta namanya.

            Eh, tetapi kupikir-pikir kalau sampai saat ini kita berpikir bahwa untuk urusan cinta-mencintai kita merasa harus mendapat balasan, betapa sempitnya pikiran kita sebenarnya.
            Sempit?
            Kok bisa?
Itu kan sudah hal yang wajar, begitu mungkin tanggapan banyak orang.

            Tetapi, coba kita berpikir lebih jauh. Kalau kita menempatkan cinta seperti itu, bukankah kita menempatkan cinta seperti barang dagangan? Maksudku, orang hanya mau memberikan cinta hanya jika cintanya mendapat balasan. Kalau enggak, buat apa susah-susah memberikan cinta? Atau, buat apa susah-susah melakukan tindakan cinta kalau enggak memberikan dampak yang menguntungkan bagi kita? Jadinya Cuma makan hati. Pahit dong! (Hiks!)

            Menurutku, cinta yang tulus atau cinta yang sejati itu justru cinta yang enggak mengharapkan balasan. (Ups!) itu menurutku sih. Atau lebih tepatnya, kita mencintai karena kita ingin ia justru bisa lebih maju dan menjadi pribadi yang lebih baik, agar rencana Tuhan dalam hidupnya tergenapi. Jadi, kalau kita melakukan “tindakan cinta” kepadanya hanya agar kebutuhan kita terpenuhi (misalnya yang paling gampang, “kebutuhan” untuk punya pacar), kita sebenarnya enggak mencintainya, tetapi mencintai diri sendiri, alias egois (terlalu ekstrim ya,,)
            Waduh! 

          Mungkin susah. Tetapi kalau kita ikhlas, kupikir enggak susah. (Justru yang susah adalah belajar untuk ikhlas.) dan, kupikir disinilah cinta yang tulus dan bermakna universal bisa diterapkan. Bukan Cuma cinta laki-laki dan perempuan, melainkan juga cinta antara orang tua dan anak, antarsahabat, antarsaudara. Contoh cinta sejati mungkin, yang paling gampang adalah tanah yang kita injak setiap hari. Biar ia diludahi, atau di injak-injak, ia tetap saja memberi kita makanan dengan menumbuhkan padi serta tanaman lain yang berguna bagi kita. Atau contoh, yang paling nyata, yaitu cinta Tuhan bagi kita. Biarpun kita kerap meninggalkan Dia karena kesibukan kita, Dia masih mau menyambut kita saat kita datang kepadaNya.

            Dan kurasa, pribadi yang paling merasakan pahitnya cinta yang terhianati atau yang nggak terbalas itu adalah Tuhan sendiri. Cinta Tuhan pasti bukan Cinta Kapitalis. Cinta Tuhan pasti juga bukan melulu karena berkenaan dengan perasaan. Indeed, love is about commitment. Tentang keiklasan juga….

                                                                        “.....Tuhan, Ngobrol yuk!”